qvida
qvida
qvida
qvida
qvida
qvida
Home | Sitemap | FAQ Search :
Member Select
User ID
Password
Andropause, bukan PAUSE bagi Pria
9 Dec 2008

Kebanyakan pria tidak menyadari bahwa kelelahan, penurunan massa otot, daya ingat dan gairah seksual yang dialaminya adalah karena sindrom penurunan testosteron atau Testosteron Deficiency Syndrom. Kondisi menurunnya hormon pria ini biasa disebut dengan andropause atau menopause pada pria yang berhubungan dengan proses penuaan.

Menurut pakar andrologi Nugroho Setiawan, hormon testosteron merupakan hormon yang sangat penting bagi pria. Hormon inilah yang memicu pertumbuhan tulang, otot, rambut dan gairah seksual. Namun, sejalan dengan usia, hormon ini akan berkurang setiap tahun setelah pria mencapai usia 40 tahun. Menurut laporan Massachussets Male Aging Study, pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah aktif sekitar 1,2 % per tahun, mencapai usia 70 tahun pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah sebanyak 35 % dari kadar semula.

“Pria seringkali tidak menyadari peranan testis yang dimilikinya mempunyai dua manfaat yaitu memproduksi sperma dan memproduksi testosteron,” kata Dr. Marc Goldstein Professor Urology and Reproductive Medicine di Weill Cornell Medical College. Perubahan fungsi testis tersebut terjadi pada usia 45 hingga 50 tahun, bahkan pada beberapa pria terjadi setelah usia 70 tahun.

Robert Davis, Profesor Urologi dari Universitas Rochester, New York mengatakan bahwa pria dengan ukuran pinggang lebih dari 40 inchi atau 101,6 cm, memiliki tekanan darah tinggi, dan tanda-tanda gejala resistensi insulin yang merupakan sindrom metabolik, memiliki risiko lebih tinggi terhadap defisiensi androgen. Apabila defisiensi androgen tersebut tidak segera ditanggulangi maka dapat mengarah pada diabetes dan penyakit jantung.

Pria yang mengalami andropause juga berisiko tinggi terhadap osteoporosis. Satu dari delapan pria berusia lebih dari 50 tahun menderita osteoporosis. Menurut Dr. Sol Jacobs, endokrinologis dan assistant professor of medicine di Emory University di Atlanta, rendahnya kadar testosteron menyebabkan menurunnya densitas tulang pada pria. Risiko penyakit jantung meningkat karena turunnya hormon testosteron akan mengurangi kapasitas pengaturannya terhadap organ penting seperti jantung.

Tidak semua wanita yang menopause gejala seperti rasa panas yang menyebar di seluruh tubuh yang paling kuat adalah di sekitar kepala dan daerah leher atau disebut hotflashes. Begitu pula pada pria yang mengalami andropause, tidak semuanya mengalami gejala yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Andre B. Araujo, Ph.D, dari New England Research Institutes mengatakan bahwa gejala defisiensi androgen terjadi pada sekitar 3% hingga 7% pada 18,4% pria berusia lebih dari 70 tahun.

Dapatkah andropause diatasi ?

Untuk menentukan sebuah diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala yang dialami pasien pria. Dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar testosteron.

Menurut Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, pasien dianggap menderita sindrom penurunan testosteron apabila tingkat testosteron dalam darah di bawah 12 nmol/l (normal : 12 nmol/l - 40 nmol/l).

“Jika kadar testosteron berada di bawah normal, para androlog akan merekomendasikan pasien untuk melakukan terapi testosteron dengan tujuan mengembalikan kadar normal testosteron untuk mengurangi gejala dan mencegah efek lanjutan dalam jangka waktu lama,” demikian kata dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And dari RSUP Fatmawati Jakarta.

Terapi yang digunakan untuk menghidupkan kembali seorang pria adalah dengan Testosterone Replacement Hormon Therapy atau terapi penggantian hormon testosteron. Terapi penggantian hormon saat ini menjadi topik terpanas dalam dunia kedokteran karena masih kontroversi. Terapi hormon testosteron dapat menimbulkan beberapa risiko seperti kanker prostat dan kanker payudara pada pria karena hormon testosteron secara alami memacu pertumbuhan kelenjar prostat. Oleh karena itu penggunaannya kontradiksi terhadap kondisi tersebut.

Saat ini telah digunakan sediaan hormon testosteron dalam bentuk injeksi, oral, tempel (patch), dan yang mutakhir adalah bentuk gel. Sediaan testosteron gel praktis dan lebih nyaman digunakan. Tanpa rasa sakit seperti sediaan injeksi dan tanpa melewati saluran pencernaan, sediaan testosteron gel dapat digunakan dengan mudah dan cepat diabsorbsi melalui kulit (transdermal).

Para androlog tidak ragu-ragu untuk menggunakan terapi hormon testosteron. Menurut mereka, suplementasi dengan kadar testosteron normal tidak akan meningkatkan risiko kanker. Dengan dosis yang tepat dan monitoring, maka efek samping dapat diminimalkan. Terapi hormon testosteron dapat memberikan energi baru dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

 
Apakah tampilan website menarik ?
Menarik
Kadang-kadang
Tidak menarik

View result
Copyright © 2008 by QVida. All Rights reserved     Disclaimer