Penyakit Kencing Manis
(Diabetes Melitus) adalah penyakit kronis-metabolik yang dapat mengganggu seluruh sistem metabolisme tubuh. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah kasus penderita diabetes melitus
(DM). Penderita DM di Indonesia menduduki rangking ke 4 di dunia dan jumlahnya mencapai: 8,4 juta (tahun 2000) serta diperkirakan jumlahnya terus meningkat pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta jiwa.
Salah satu komplikasi DM yang paling ditakuti bagi pria penderita DM adalah:
Disfungsi Ereksi (D E), yaitu:
suatu kondisi berupa ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi pada Mr Happy-nya secara maksimal dalam kurun waktu 6 bulan terakhir untuk dapat melakukan hubungan seksual secara sempurna, dan kondisi ini akan berdampak terhadap ketidak harmonisan pada pasangannya.
Lebih dari 50 % pria penderita DM memberikan komplikasi DE. Dan hampir 30% dari kasus DE yang diakibatkan dari komplikasi DM tidak mendapat hasil secara maksimal akibat penanganannya yang tidak efektif dan tuntas, sehingga penderita yang mengalami gangguan Disfungsi ereksi pada D M merasa frustasi untuk mencari pengobatan, bahkan timbul persepsi dari penderita DM untuk berpasrah diri untuk menerima kodrat.
Justru seorang pria baru menyadari menderita penyakit penyakit Kencing Manis setelah merasakan adanya gangguan pada Mr. Happy-nya (disfungsi ereksi). Jadi DE dapat dipakai salah satu prediktor /petanda dari kemungkinan adanya penyakit Kencing Manis.
GANGGUAN FUNGSI SEKSUAL PADA DM
Gangguan potensi seksual pada DM bukan hanya berupa gangguan pada sistem fungsi Ereksinya saja, tetapi juga akan mengalami gangguan fungsi respons seksual lainnya berupa:
- Menurunanya dorongan serta libido / gairah seksual.
- Gangguan ejakulasi (jumlah maupun pancaran/semburan mani menjadi berkurang).
- Intensitas orgasme juga menurun.
Penderita DM baru merasakan/mengeluh adanya gangguan pada Mr Happy-nya setelah menderita DM 10-15 tahun lamanya, semuanya tergantung dari kedisiplinan penderita DM untuk dapat mengontrol kadar gula darahnya mendekati nilai normal. Makin bisa mengontrol kondisi DMnya secara baik, makin lama akan terjadinya DE , demikian juga sebaliknya.
MEKANISME DISFUNGSI EREKSI PADA DIABETES MELITUS
Proses terjadinya Disfungsi ereksi pada penderita DM adalah: terjadinya gangguan pada sistem saraf (peripheral neuropathy), gangguan sistem pembuluh darah (vascular system) dan hypogonadism (gangguan pada sistem hormonal). Ketiga sistem tersebutlah yang membuat penderita DM berusaha mencari pengobatan untuk mengembalikan fungsi Mr. Happy-nya. Resiko untuk terjadinya gangguan Fungsi Ereksi pada DM adalah 2 X lebih besar dibandingkan dengan yang bukan DM.
Kegagalan Terapi Disfungsi Ereksi pada D M
Pengalaman Klinis menunjukkan bahwa hampir 20%-30% penderita disfungsi ereksi pada DM,
gagal memdapatkan hasil secara maksimal dengan terapi yang ada, bahkan dengan
terapi Injectie Intra cavernosa sekalipun
(terapi langsung pada Mr Happy-nya).
Beberapa keluhan gangguan DE pada DM adalah: penderita merasakan hasil terapi yang didapat / yang ada tidak memberikan hasil secara memuaskan, sehingga diperlukan peningkatan dosis (walaupun tetap tidak memberikan hasil) serta selalu merasakan akan ketergantungan obat.
Kondisi ini disebabkan karena: adanya
Resistensi Insulin ( berkurang / tidak berfungsinya kembali hormon Insulin untuk dapat mengatur kadar gula darah dalam tubuh), sehingga mengakibatkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi yang selanjutnya akan memicu menumpuknya radikal bebas (racun) didalam semua sistem organ tubuh serta mengakibatkan terjadinya Hypogonadism (gangguan pada sistem hormonal).
Beberapa faktor pemberat terjadinya gangguan fungsi ereksi pada penderita Kencing Manis yaitu: adanya resistensi insulin, gangguan hormonal (hypogonadism), kadar gula darah tidak terkontrol, adanya penyakit sistemik lainnya seperti: gangguan kolesterol (dyslipidemia), hipertensi dan obesitas serta usia lanjut.
PENANGANAN - TERAPI
Apakah gangguan DE pada penderita DM harus berpasrah diri ??
J a w a b a n n y a:
T I D A K !!!
Penanganan kasus Gangguan Fungsi Ereksi pada penderita Kencing Manis memerlukan terapi yang spesifik dibandingkan dengan kasus DE akibat dari penyebab yang lainnya.
Dengan
Terapi Anti Aging ( TAA plus ), suatu terapi secara hormonal yang memberikan hasil yang cukup memuaskan (99%) bahkan pada kasus yang berat sekalipun tanpa merasa ketergantungan.
Keberhasilan terapi, tidak lepas dari disiplin diri terhadap pengaturan pola diet makanan, olah raga, rajin mengontrol gula darah secara rutin dan berkesinambungan.
oleh :
dr Herry S. Lubis, SpAnd
Androlog
Konsultan: Klinik Andrologi-Seksologi
Rumah Sakit P E L N I - Jakarta