Wanita Migren Berisiko Rendah terhadap Kanker Payudara
27 Jul 2009
Hampir setiap orang pernah mengalami sakit kepala, namun jutaan warga Amerika mengalami migren atau sakit kepala sebelah kadang-kadang saja, yang sering kali sangat mengganggu aktifitas. Nyeri migren biasanya terasa senut-senut pada satu atau dua sisi kepala dan dapat hilang dalam waktu beberapa jam, atau seharian, dan biasanya disertai mual, pusink, sensitif terhadap cahaya, bau, dan suara. Namun, para peneliti mengatakan bahwa penderita migren berisiko rendah terhadap kanker payudara.
Sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh Dr. Christopher I. Li dari Pusat Penelitian Kanker di Seattle, yang membandingkan kurang lebih 9000 wanita dengan riwayat migren memiliki penurunan sekitar 26% risiko kanker payudara, tanpa memperhatikan status menopause, usia ketika terdiagnosa migren, apakah dia menggunakan obat untuk sakit kepalanya, atau apakah dia menghindari faktor pencetus. Penelitian menemukan bahwa 33% risiko terhadak kanker payudara berkurang pada wanita yang mengalami migren.
“Penelitian ini menyatakan bahwa wanita dengan migren memiliki risiko kanker yang lebih rendah,” kata Li. Walaupun para peneliti tidak yakin secara pasti mengapa wanita yang mengalami migran mengalami penurunan risiko terhadap risiko kanker payudara, mereka memberikan alasan dari faktor hormon, khususnya estrogen. “Beberapa pencetus migren berkaitan dengan pengurangan hormon estrogen.” Di lain sisi, meningkatnya hormon estrogen diketahui meningkatkan risiko kanker payudara, oleh karena itu secara biologi sangat masuk akal bahwa penderita migren cenderung lebih sedikit mengalami kanker payudara.
Para peneliti berkata bahwa meningkatnya penggunaan obat golongan anti inflamasi non steroid (NSAIDS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen oleh para pasien migran hanya sebagian alasan saja, namun bukan penjelasan dari penurunan risiko terhadap kanker payudara. Analisis terbaru dari beberapa penelitian menerangkan hubungan antara konsumsi NSAID dan 12% pengurangan terhadap kanker payudara. “Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjawab hubungan tersebut,” para peneliti menyimpulkan.
Li menambahkan bahwa wanita yang mengalami migren juga masih harus melakukan skrining kanker payudara dan monitoring. Dr. Michael Kraut direktur onkolgi di sebuah rumah sakit di Michigan mengatakan bahwa penurunan risiko kanker payudara sekitar seperempat kali, namun tidak menghilangkan risiko untuk terkena risiko tersebut, oleh karena itu wanita dengan migren tetap harus waspada untuk mengontrol risiko terkena kanker payudara.
Kraut juga setuju bahwa hubungan antara migren dengan risiko kanker payudara salah satunya adalah karena masalah hormonal. “Sebuah teori mengemukakan bahwa wanita mengalami migrain karena hormon estrogen dalam tubuhnya mengalami penurunan. Wanita yang secara terus-menerus, mengalami peningkatan terhadap kadar estrogen memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara,” Kraut mengatakan bahwa kadar estrogen yang tinggi itu berbahaya.
Li dan tim kini tengah melakukan penelitian dengan partisipan wanita-wanita yang mengikuti penelitian sebelumnya dengan tujuan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengaruh dari perbedaan tipe migren. “Kami berusaha memahami apa tipe migren yang umumnya berkaitan dengan penurunan risiko kanker payudara;” kata Li.
Sumber : Jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention, Juli 2009
(a journal of the American Association for Cancer Research).
