Kolesterol Tinggi dan Alzheimer
18 Aug 2009
Penelitian menunjukkan bahwa kadar kolesterol total yang tinggi pada usia paruh baya berisiko terhadap penyakit alzheimer.
Orang dewasa yang menunjukkan peningkatan kadar kolesterol di awal sampai pertengahan usia 40an tampaknya memiliki peningkatan risiko terhadap Alzheimer dan beberapa penyakit kepikunan dalam sepuluh tahun kedepan, begitulah hasil penelitian terbaru.
Para peneliti meneliti lebih dari 9800 orang selama 4 dekade dalam sebuah penelitian kasus penyakit pikun yang berkaitan dengan usia yang terbesar dan terlama yang pernah ada. Mereka menemukan bahwa orang dengan tingkat total kolesterol tinggi atau bahkan sedikit di atas garis batas normalnya di usia 40an memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk berkembangnya penyakit Alzheimer pada tahun - tahun berikutnya.
“Orang cenderung berpikir bahwa otak dan jantung bekerja terpisah, padahal tidak,” ujar Rachel A Whitmer, PhD, penulis pendamping di Divisi Penelitian di Oakland California. “Kami mendapati bahwa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak, dan usia paruh baya tidaklah terlalu awal untuk memikirkan tentang faktor risiko dementia.”
Penelitian kolesterol dan penyakit Alzheimer itu melibatkan 9844 penduduk California Utara. Hampir 600 orang memiliki baik itu penyakit Alzheimer atau kondisi terkait yang disebut dementia vaskuler di akhir penelitian saat mereka berusia 60an, 70an dan 80an. Tingginya tingkat kolesterol di awal studi dihubungkan dengan 66% peningkatan risiko Alzheimer, sementara yang memiliki tingkat kolesterol di ambang batas berisiko dementia vaskuler sebesar 52%. Menurut petunjuk terbaru, tingkat kolesterol di atas 240 itu dianggap tinggi dan bila berada pada 200-239 dianggap di tingkat sedikit di atas ambang normal.
Para peneliti tidak memberikan informasi mengenai kolesterol baik (HDL) dan kolesterol jahat (LDL) karena empat dekade lalu perbedaan signifikan kedua jenis lipid tidak dipahami secara luas. Tapi cukuplah aman dimengerti bahwa orang yang memiliki tingkat kolesterol total tinggi sebenarnya memiliki tingkat kolesterol jahat yang tinggi karena sekitar 2/3 kolesterol total mencerminkan LDL, demikian kata Whitmer.
Baik untuk Jantung, Baik untuk Otak
Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Kaiser dan Universitas Kuopio di Finlandia adalah penelitian pertama yang mempelajari risiko dementia vaskuler, sekelompok gejala dementia yang dikaitkan dengan kurangnya suplai darah ke otak. Penulis utama, dr. Alina Solomon dari Universitas Kuopio mengatakan bahwa studi menambahkan beberapa bukti bahwa dengan mengontrol faktor risiko penyakit jantung seperti kolesterol, tekanan darah, diabetes, dan berat badan di usia paruh baya bisa melindungi otak di usia tua.
“Menjaga berat badan, makan dengan benar, dan olahraga teratur bisa membuat jantung Anda sehat saat Anda menua, dan akan membuat otak Anda tetap tajam,” ujarnya. William H Thies, PhD, Ketua Asosiasi Alzheimer dan peneliti ilmiah mendukung pernyataan bahwa gaya hidup berpengaruh sangat jelas terhadap risiko, bahkan terhadap orang yang memiliki predisposisi genetik akan berkembangnya dementia di usia lanjut.
“Kita tidak bisa mengatakan berapp banyak risiko yang disebabkan gaya hidup dan faktor genetik atau keturunan,'” ujarnya. “Kita mengetahui bahwa sebagian besar pasien Alzheimer juga memiliki penyakit vaskuler dan faktor risiko penyakit vaskuler lebih erat dikaitkan dengan gaya hidup”, tambahnya.
Perubahan Gaya Hidup untuk Menurunkan Risiko
Ahli komputer, James Pitman, 44 tahun, menerima pesan tersebut dan mengubah gaya hidupnya untuk menurunkan kadar kolesterolnya yang tinggi dengan harapan dapat menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes dan kepikunan di usia lanjut. Seorang penduduk California lainnya yang memiliki diabetes dan Alzheimer dalam sejarah keluarganya, telah menurunkan kolesterolnya dari 280 ke 260 dengan cara makan lebih sehat dan olahraga teratur. Dia berkata bahwa dia berharap bisa menurunkan lebih banyak dengan melakukan beberapa perubahan lagi. “Saya tidak begitu beruntung karena saya memiliki risiko dari faktor keturunan, sehingga saya mungkin pada akhirnya akan minum obat untuk menurunkan kolesterol, namun saya akan melakukan yang saya bisa yaitu dengan diet sehat dan olahraga.”
