Mengapa Kita Perlu Melindungi Paru Kita ?
25 Aug 2009
Setiap kali bernapas kita akan menghirup rata-rata 500 ml udara, Sebagian Oksigen dalam udara akan diserap darah kapiler yang menyelimuti gelembung-gelembung paru (alveol) bersamaan dengan pelepasan CO2 kedalam udara didalamnya untuk kemudian dikeluarkan lagi.
Setiap menit kita bernapas 14-24x. Saat tidur frekuensi napas berkurang sedikit sesuai dengan kebutuhan Oksigen yang berkurang. Saat melakukan pekerjaan berat dan olahraga, kita akan bernapas lebih cepat dan lebih dalam karena saat itu tubuh kita memerlukan Oksigen yang lebih banyak. Rata-rata bernapas 20x/menit, maka dalam 1 hari jumlah udara yang masuk-keluar paru adalah 24x60x20x500 ml atau sama dengan 14.400.000 ml=14.400 liter, kalau diukur dalam drum oli (barrel) yang bervolume 200 liter, maka jumlah udara yang masuk/keluar paru tiap harinya adalah sebanyak 72 drum!Itu artinya, makin banyak udara mengandung polutan maka makin banyak pula polutan yang masuk ke paru.
Asap rokok adalah pencemar udara nomer satu, baik bagi si perokok sendiri maupun bagi keluarga/orang di dekatnya. Dengan demikian penduduk kota-kota industri yang udaranya tercemar berbagai polutan, terutama pula para perokok aktif maupun pasif, parunya akan terpapar secara intensif dan berkepanjangan. Mereka yang pekerjaannya berlalu lalang di jalan-jalan dengan lalu lintas kendaraan bermotor yang padat dan alat penyaring gas buang-nya tak berfungsi dengan baik akan menghadapi resiko ekstra.
Polusi udara luar sudah banyak diketahui, tetapi polusi udara dalam rumah masih banyak yang kurang memahaminya, misalnya detergen. Pemakaian aneka-ragam spray juga menjadi hal yang lazim, dari spray obat anti-nyamuk sampai hairspray. Masih ada lagi segala macam ‘pengharum’ dan ‘penyegar’ baik untuk keperluan kamar, WC sampai mobil. Kesemuanya ini adalah sumber apa yang sekarang dikenal sebagai Volatile Organic Compounds (VOC).
Umumnya polutan udara mengandung RADIKAL BEBAS yang pada awalnya akan menimbulkan lesi (kerusakan) oksidatif berskala mikro pada permukaan paru sebelah dalam yang menerima udara yang masuk saat bernapas. Serat-serat elastis dalam paru juga secara langsung mengalami kerusakan oksidatif sehingga jaringan paru tidak lagi elastis dan memudahkan timbulnya Emfisema (keadaan paru yang mengembang luar biasa yang tak dapat pulih kembali karena serat-serat elastis sudah pada rusak).
Bila udara terus menerus tercemar dengan berbagai poutan, maka mikro-lesi bukan saja tambah banyak tetapi juga tambah luas yang berakibat diproduksinya dahak secara berlebihan yang akan dikeluarkan dengan batuk. Sampailah sekarang korban polusi itu pada stadium Bronkitis Kronis, yang bila tak cepat ditanggulangi dengan baik akan mengakibatkan timbulya Emfisema yang ireversibel dan biasanya akan disertai sesak napas yang timbulnya perlahan-lahan tetapi progresif. Mikrolesi juga akan berperan sebagai ‘pembuka pintu’ bagi berbagai alergen udara untuk masuk ke dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan timbulnya Asma.
Kita harus melindungi paru kita dari polutan apapun. Caranya dengan menghindari udara tercemar terutama dari asap rokok. Bila tak mungkin menghindar janganlah ragu atau segan untuk menggunakan masker, minimal menutup hidung dengan saputangan yang sedapat mungkin agak dibasahi sehingga partikel-partikel padat dapat tertangkap dengan lebih mudah. Disamping itu ANTI-OKSIDAN berperan penting dalam perlindungan paru, dalam hal ini yang paling dianjurkan adalah SOD (Super-oxyde dismutase).
Mengapa SOD?
Studi ini dilaporkan dalam Journal of Asthma yang mengamati 25 subjek uji dan menemukan bahwa pasien asma memiliki jumlah SOD yang lebih rendah daripada orang sehat. SOD yang lebih rendah secara nyata adalah faktor penyebab asma. Studi yang dilaporkan oleh American Journal of Respiratory dan Clinical Care Medicine menemukan bahwa ketika terjadi respon alergi, sel-sel paru menjadi meradang, yang akan memicu peningkatan produksi ROS.
Alergen dan bahan kimia dapat memicu konstriksi bronkial lebih parah yang membuat pernafasan menjadi semakin sulit. Proses produksi radikal bebas ROS (Reactive Oxygen Species) yang berlebihan ini adalah sebagai reaksi perlawanan terhadap alergen-alergen tersebut. Produksi ROS menjadi bersifat merusak dan memperburuk asma. Salah satu studi yang dilaporkan di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menunjukkan bahwa SOD menurunkan keparahan serangan asma yang dipicu oleh alergen dan bahan kimia. Peneliti mengungkapkan bahwa jumlah SOD yang mencukupi akan menurunkan efek konstriksi yang disebabkan alergen dan mempermudah pernafasan.
Hubungan yang kuat antara jumlah SOD yang menurun dan gejala asma pada pasien tersebut menunjukkan bahwa SOD berperan sebagai perlawanan pertama terhadap serangan asma. Dengan peningkatan jumlah SOD, maka SOD dapat melindungi jaringan paru dari kerusakan oksidatif lebih lanjut. Hasil penelitian lain adalah bahwa pasien asma yang mengkonsumsi antioksidan SOD merasa lebih baik daripada yang tidak mengkonsumsi. Penemuan ini menunjukkan bahwa SOD dapat digunakan sebagai terapi yang efektif untuk mengatasi gejala asma. Studi menyatakan bahwa suplementasi dengan GliSODin dapat menghambat keparahan asma.
