Antioksidan Mencegah Kepikunan
6 Oct 2009
Tinjauan baru pada beberapa data iklan lama menambahkan bukti yang meyakinkan bahwa tingginya kadar asam urat yang bersifat antioksidan di dalam cairan tubuh dapat memperlambat laju kerusakan saraf pada penyakit Parkinson.
Namun, para peneliti juga mengingatkan potensi bahaya bila langsung mengaplikasikan informasi ini.
“Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa asam urat memperlambat laju penyakit tersebut dan kami membutuhkan percobaan bersifat klinis untuk melihat apakah perlambatan tersebut didasarkan pada tingkat asam urat,” papar penulis studi senior, Dr. Michael A. Schwarzschild, kepala profesor neurologi di Fakultas Kedokteran Harvard dan direktur Institut Mass General untuk Penyakit Neurodegeneratif. Ia dan rekannya melaporkan temuannya itu secara online pada 12 Oktober pada Archives of Neurology.
Uji klinis untuk menilai dampak asam urat pada Parkinson adalah sebuah permulaan yang didanai oleh yayasan Michael J. Fox. Yayasan ini merekrut 90 penderita Parkinson pada 10 pusat perawatan medis di Amerika untuk mempelajari apakah konsumsi inosine, suplemen diet yang dijual bebas yang merupakan bahan penyusun asam urat, secara rutin dapat memperlambat kerusakan saraf yang diakibatkan oleh penyakit Parkinson.
Sementara itu, apa yang seharusnya dilakukan oleh penderita Parkinson? “Mereka sebaiknya berhati-hati,” ujar Schwarzschild. “Mungkin akan ada godaan, tapi mereka harus berhati-hati karena tingkat keamanannya mengkhawatirkan.”
Bahaya utama dari kelebihan dosis asam urat adalah adanya batu ginjal dan penyakit asam urat. Namun ia berkata ada kemungkinan resiko lainnya, seperti meningkatnya kemungkinan penyakit kardiovaskuler.
“Ada banyak hal buruk yang dikaitkan dengan hal itu, dan karena kami tidak tahu apakah hal ini telah terbukti, merupakan saran yang buruk untuk menerapkan pengobatan ini,” ujar Schwarzschild.
Ahli lainnya setuju. “Pada titik ini, saya tidak akan merekomendasi penderita Parkinson mana pun untuk mengkonsumsi inosine sebagai suplemen,” ujar Dr. Ira Shoulson, Profesor Neurologi di Universitas Rochester, New York dan salah satu anggota tim peneliti. “Saya tidak akan melakukannya karena beberapa alasan, sebagian besar demi alasan keamanan, tapi juga menyangkut apakah itu menguntungkan penderita. Ini merupakan hal yang perlu kita pecahkan di masa mendatang.”
Sebagian besar sumber-sumber alami asam urat dipercaya banyak orang untuk dihindari karena alasan lainnya, ujar Schwarzschild – fruktosa, jenis gula ini sering dituding sebagai sumber kegemukan epidemik; alkohol; dan bahkan merokok. “Ada banyak yang seperti itu di dalam liver kita, tapi siapa yang mau makan sebanyak itu?” tambah Shoulson.
Parkinson ialah penyakit neurologis degeneratif yang merusak sel-sel otak sehingga menyebabkan gejala statis yang terus memburuk, seperti gemetar dan gerakan yang melambat. Schwarzschild berkata indikasi bahwa asam urat mungkin mempengaruhi penderita Parkinson mulai muncul dari penelitian epidemiologis beberapa dekade lalu. Bukti yang lebih utuh datang dari penelitian yang dilaporkan setahun lalu yang menuntun para peneliti penelitian lanjutan ini untuk melihat kembali pada penelitian dua puluh tahun lalu terhadap 800 penderita Parkinson.
“Mereka menyumbangkan sumsum tulang belakang dan darah, sehingga kami dapat menguji kadar asam urat dalam cairan sumsum tulang belakang yang mengelilingi sel-sel otak,” ujar Schwarzschild.
Analisa menunjukkan bahwa seperlima jumlah peserta penelitian dengan kadar asam urat tertinggi memiliki resiko laju kerusakan lebih rendah 36 persen daripada seperlima jumlah peserta dengan kadar asam urat terendah.
“Asam urat sebenarnya salah satu antioksidan utama yang bersirkulasi di dalam tubuh manusia,” ujar Schwarzschild, “Degenerasi sel otak pada Parkinson, Alzheimer, atau ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis atau penyakit Lou Gehric), disebabkan oleh kerusakan oksidatif.”
Namun, ahli lainnya sepakat bahwa ini terlalu awal untuk merekomendasikan pola makan atau perawatan ini.
“Penemuan ini sangat menggembirakan, tapi belum siap diterapkan pada pasien secara indivicual,” ujar Dr. Melissa Nirenberg, asisten profesor neurologi dan ilmu syaraf di Sekolah Kedokteran Weil Cornell, New York City, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Ia berkata bahwa laporan sebelumnya itu tidak menimbulkan banyak pertanyaan mengenai asam urat dari pasiennya. “Ini mungkin akan menimbulkan kegemparan, tapi sangat perlu diperhatikan bahwa asam urat merupakan faktor resiko dari penyakit kardiovaskuler dan penyakit lainnya,” ujarnya.
Jika ia ditanya mengenai inosine, “Saya tidak akan pernah merekomendasikannya pada pasien pada tahap ini karena kita tidak mengetahui apakah hal ini lebih pada sebab-akibat daripada sekedar sebuah keterkaitan dan apakah potensi manfaatnya lebih besar dari resikonya,” ujar Nirenberg.
