KAITAN DEPRESI DENGAN PENYAKIT ALZHEIMER
13 Oct 2009
Mild Cognitive Impairment (MCI) atau melemahnya kemampuan kognitif secara perlahan mempengaruhi banyak orang usia lanjut dan dianggap sebagai masa di antara melemahnya ingatan karena penuaan secara normal dan penyakit Alzheimer. Penderita MCI ini biasanya lebih pelupa dari orang pada umumnya, tapi mereka tidak menunjukkan adanya gejala lain dari Alzheimer. Mengetahui pasien manakah yang akan berubah dari tahap “pelupa” ini menuju tahap Alzheimer telah lama menjadi masalah diagnostik bagi pelaku medis. Masalah dalam memprediksikan siapa yang lebih beresiko mengalami Alzheimer muncul bersamaan dengan problematika MCI dalam perannya atas meningkatnya kemungkinan penyakit ini.
Baru-baru ini peneliti meneliti 756 penderita MCI di antara usia 55 sampai 91 tahun selama tiga tahun. Sekitar seperempat peserta penelitian didiagnosa dengan gejala depresi. Uji depresi menghasilkan laporan dalam bentuk angka dan setiap satu poin angka dalam uji depresi tersebut meningkatkan resiko terbentuknya Alzheimer sebanyak 3 persen. Asisten Profesor dari Sekolah Kedokteran David Geffen di UCLA, Po H. Lu, mengatakan hasilnya mengarah pada penemuan bahwa depresi merupakan faktor resiko utama dalam penyakit Alzheimer.
Peserta penelitian diberikan donepezil (bermerk dagang Aricept), vitamin E, atau placebo. Persentase penderita MCI dengan gejala depresi yang mengkonsumsi vitamin dan placebo ternyata dua kali lebih banyak mengalami peningkatan menjadi Alzhaimer daripada mereka yang mengkonsumsi doneprezil. Obat ini sepertinya tidak memberikan pengaruh pada penderita MCI yang tidak memiliki gejala depresi. “Jika kita bisa menunda laju perubahan penyakit ini bahkan hanya dalam dua tahun, akan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup banyak orang yang berkaitan dengan kehilangan memori,” ujar Lu.
Aricept telah disetujui oleh FDA untuk digunakan pada penderita MCI, tapi terbatas pada mereka yang didiagnosa dengan Alzheimer. Diagnosa akhir terhadap mereka yang diperkirakan akan berkembang menuju tahap Alzheimer akan membuat perawatan pencegahan lebih berhasil. Hal ini juga memberikan target spesifik bagi para ilmuwan untuk penelitian lanjutan dan kemungkinan pengobatan yang nyata bagi penderita Alzheimer.
Pra-diagnosa yang sesuai mungkin saja bukan lagi mimpi yang tak mungkin terjadi bagi para ilmuwan di masa mendatang. Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas California, San Diego, telah menggunakan prosedur otomatis yang disebut Volumetric MRI untuk mengukur “pusat ingatan” pada otak dan membandingkannya dengan ukuran normal untuk memastikan apakah telah terjadi atropi otak. Atropi otak merupakan indikasi pasti penyakit Alzheimer.
“Penggunaan prosedur ini seperti membawa pengalaman seorang ahli radiologi otak kepada klinik mana pun yang memiliki piranti lunak yang sesuai,” ujar James Brewer, MD, PhD, asisten profesor di Jurusan Radiologi dan Ilmu Syaraf UC, San Diego. “Metode yang mengukur volume temporal lobe bagian tengah dengan cepat dan sepenuhnya otomatis ini dapat membantu pelaku medis di klinik untuk memprediksi penurunan kemampuan kognitif pada penderita dan memiliki potensi untuk mempengaruhi cara kerja neurologi.”
